Translate

Jumat, 15 Maret 2013

Mystic White (Kang Jiyoung, Bora, Han Sunhwa, Huh Gayoon, Lizzy) : 인어공주 (Mermaid Princess)

 
ROMANIZED

[JIYOUNG]
Cheoeum ingeol shigani meonchun neukkim
Ain’t no reason sarange ppajyeotnabwa
[SUNHWA]
Neo animyeon boijiga ana OOH boy~!
Hangeoreum deo OH naege naege wajweo

[BORA]
Haruedo sushippeonsshik neol neol neol
Saenggak hamyeon nado mollae love love love
Mareun motago shigani eopseodo
Neoman isseumyeon (alright)

[GAYOON]
I know, you know, love me
You know, I know, kiss me
[LIZZY]
Oneuri gamyeon
The end

[JIYOUNG]
Sad tonight!
Oh naege dagawa naege dagawajweo
Come tonight!
Oh nareul barabwa i bami gagi jeone

[SUNHWA]
Seulpeun ineo gongju cheoreom
Oh maldo motago
Mulgeopum dwe beorigi jeone 
Naege kiseuhaejweo

[LIZZY]
Oh Oh Kiss me Oh Kiss me
Oh Oh Kiss me Oh Kiss Kiss haejweo

[GAYOON]
Na eojjeomyeon puk ppajil geotman gata
Love is Magic mabeome geollyeotnabwa
[LIZZY]
Neo animyeon nal guhae julsu eopseo boy
Eoseo ppalli Oh naege naege wajweo

[BORA]
Honja namge dwen bam
Neoege mottahan mal
Chigabge shigeo beorin bang aneseo yeonrakman
Gidarigo isseo
Nunchigo cham eopseo
Aega tado molla juneun neo (Hey you)

[JIYOUNG]
I know, you know, love me
You know, I know, kiss me
[LIZZY]
Naeiri omyeon
The end

[GAYOON]
Sad tonight!
Oh naege dagawa naege dagawajweo
Come tonight!
Oh nareul barabwa i bami gagi jeone

[JIYOUNG]
Seulpeun ineo gongju cheoreom
Oh maldo motago
Mulgeopum dwe beorigi jeone
Naege kiseuhaejweo

[SUNHWA]
Oh Oh Kiss me Oh Kiss me
Oh Oh Kiss me Oh Kiss Kiss haejweo

[GAYOON]
Love to me naege wajweo
[JIYOUNG]
 Say love me love me
[BORA]
Come with me boy~!

[GAYOON]
Sad tonight!
Oh naege dagawa naege dagawajweo
Come tonight!
Oh nareul barabwa i bami gagi jeone

[SUNHWA]
Seulpeun ineo gongju cheoreom 
Oh maldo motago
Mulgeopum dwe beorigi jeone
Naege kiseuhaejweo

[LIZZY]
Oh Oh Kiss me Oh Kiss me
Oh Oh Kiss me Oh Kiss Kiss haejweo

Suwon Hwaseong Museum, Mengabdikan Sejarah dan Budaya Kota

 
 Mempelajari bagaimana keunikan kota Suwon adalah salah satu kegiatan yang menarik. Sebagai satu-satunya kota yang dikelilingi benteng, Suwon tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan benteng Hwaseong dan istana Haenggung yang semuanya terekam dengan apik di Suwon Hwaseong Museum.

Museum ini memiliki dua ruang pameran tetap yakni exhibition hall on construction of fortress dan cultural center. Ruangan yang pertama akan memperlihatkan kepada kita bagaimana proses kontruksi dari benteng Hwaseong serta pengembangan kota Suwon. Sedangkan ruangan yang kedua menggambarkan berbagai peristiwa sejarah yang berkaitan dengan dengan benteng Hwaseong. Seperti misalnya kunjungan Raja Jeongjo selama 8 hari pada tahun 1795.
 Salah satu bagian dari museum yang sangat disukai oleh anak-anak adalah children experience center, dimana kita bisa belajar cara pengukuran kuno dan mencoba kostum istana. Kita juga bisa melihat tandu yang biasa digunakan oleh Ratu Hyeggyeonggung saat berjalan-jalan.
Ruangan lainnya di museum ini juga dirancang untuk menggelar berbagai pameran yang terjadwal. Seperti misalnya pameran mahkota dari Pangeran Sado.
Tidak hanya menggelar pameran di dalam ruangan. Kita juga bisa melihat pameran outdoor yang tak kalah menarik. Di halaman luar ini diperlihatkan beberapa mesin yang digunakan dalam pembangunan benteng Hwaseong yakni geojunggi dan nokro. Uniknya, disini juga terdapat taeshil yakni tempat yang berisi tali pusat dan plasenta para keturunan kerajaan. Taeshil awalnya terletak di Gyejoksan dan  didirikan pada tahun 1753. Relik terakhir yang bisa kita lihat di ruang pameran outdoor adalah monumen yang didirikan dalam rangka memperingati tata kelola yang baik dari kepala unit daerah. Awalnya monumen ini tersebar di seluruh Suwon namun kemudian dikumpulkan bersama-sama.
 
Jika tertarik untuk mengunjungi di Suwon Hwaseong Museum, Anda bisa datang sejak pukul 9 pagi hingga 6 malam. Tiket masuk museum seharga 2000 Won untuk pengunjung dewasa, 1000 Won untuk remaja dan gratis untuk pengunjung anak-anak.
Untuk mencapai lokasi ini Anda bisa naik subway line 2 menuju Jamsil Station dan keluar melalui pintu exit 6. Sesampainya disana, naiklah bus nomor 1007 menuju Suwon Hwaseong Museum. Alternatif lainnya adalah dengan naikl subway line 1 menuju Suwon Station. Keluar dari pintu exit 7 lanjutkan perjalanan Anda menuju museum dengan naik bus nomor 77-1, 1, 7, 7-2, 60, 660 atau 700-2.
 
 Selama berlibur di Suwon, Anda bisa mengunjungi destinasi wisata yang lain yakni istana Haenggung, pintu gerbang Bald al-mundan Jangan-mun serta  benteng Hwaseong.

Gaya Makanan era Kerajaan Korea

 
Jika Anda penggemar K-drama seperti Daejanggeum atau Jewel In The Palace, pasti sering menyaksikan sajian masakan istana yang dihidangkan kepada keluarga raja. Seiring dengan makin populernya budaya Korea, banyak turis yang ingin mengetahui bagaimana sejarah dan gambaran singkat sajian kerajaan.

Makanan yang disiapkan untuk raja disebut dengan “sura” sedangkan meja yang digunakan untuk menata semua sajian disebut dengan “surasang”. Uniknya, kata-kata “sura” bukanlah kata asli Korea namun istilah dari Mongolia yang diperkenalkan pada Dinasti Goryeo. Surasang disajikan dua kali sehari yakni pada pukul 10 pagi dan 5 sore. Di antara waktu makan tersebut disajikan makanan ringan pada pukul 2 siang. Sedangkan untuk mengawali hari, dihidangkan chojoban atau sarapan pagi berupa semangkuk bubur.
 
 
Saat masa pemerintahan Raja Gojong dari dinasti Joseon, kerajaan tidak mengenal minuman beralkohol. Selama periode pemerintahannya yakni pada 1863 – 1907, istana lebih mengenal ciders dan sikhye. Ciders dan sihkye adalah minuman yang terbuat dari beras manis yang biasanya disantap saat menjelang tidur. Di musim dingin raja lebih memilih sajian seolleongtang yakni kaldu nasi yang dimakan dengan nasi dan mie hangat. Raja Gojong bukanlah penyuka pedas dan asin sehingga mie lebih sering dihiasi dengan irisan daging rebus dan taburan kacang pir dan pinus.
Berbeda dengan Raja Gojong, Raja Sunjong yang memerintah dari tahun 1907 – 1910 menyukai makanan yang lembut dan tidak asin. Seperti chaldoljoringae (bakso) atau hwangbokkkitang (sup dengan potongan daging sapi berbentuk dadu). Tidak hanya itu Raja Sunjong juga menyukai kkakdugi  yakni kimchi yang berbahan dasar lobak.
 
 Ada banyak aturan dan etika kerajaan yang berhubungan dengan tata cara makan. Misalnya, anggota keluarga kerajaan tidak berbagi meja. Pada sajian yang dihidangkan kepada raja ada 12 jenis lauk yang berbeda dan beberapa hidangan tambahan seperti dua jenis nasi yakni nasi  dan yang dicampur dengan kacang merah, dua jenis sup, tiga jenis kimchi, tiga jenis kecap dan satu hidangan kukus. Dua belas jenis lauk itu ditaruh di piring-piring kecil.
Melihat banyaknya makanan yang disajikan, beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai pemborosan namun ternyata ada arti khusus dibalik semua itu. Makanan yang disajikan tersebut untuk mencerminkan kondisi masyarakat pada saat itu. Hal ini dikarenakan pada masa kerajaan banyak masyarakat yang memanen dan menangkap hasil laut terbaik mereka untuk dipersembahkan kepada raja. Melalui sekian banyak hidangan tersebut raja menjadi tahu keadaan rakyatnya.
Kesibukan para koki istana bertambah jika kerajaan sedang menggelar perjamuan khusus dalam acara penting seperti ulangtahun, penganugerahaan gelar baru, pernikahan, penunjukkan pangeran mahkota dan resepsi untuk menyambut utusan asing.
Salah satu restoran yang mencoba mengadaptasi sajian kerajaan adalah Seokparang Restaurant yang berada di Jogno-gu, Seoul. Restoran ini buka sejak pukul 12 siang hingga 10 malam. Untuk mencapai Seokparang Anda bisa naik bus nomor 7016, 7018, 7212, 1020, 1711 dan 7022.
Source :panduanwisata

Kamis, 14 Maret 2013

Legenda Kolam Hwangji

 
Di sebuah desa dimana sekarang menjadi kota Taebaek, sang biksu mengelilingi desa untuk mengumpulkan sumbangan. Di tengah-tengah perjalanan, sang biksu ketemu dengan suatu rumah yang nampak cukup kaya dan saat melihat rumah itu, sang biksu meramalkan bahwa rumah tersebut akan mengalami musibah. Sang biksu lagi masuk ke rumah itu agar menolong rumah itu untuk bisa menghindari nasib naas. Demikian sang biksu masuk ke rumah, disana sang pemilik rumah bernama, Hwang sedang giat membersihkan kotoran sapi yang akan digunakan sebagai pupuk di kandangnya.

Hwang yang kaya raya ini pun sadar bahwa di belakang datang seorang biksu. Hwang lagi bertanya kepada sang biksu, kenapa datang ke rumahnya, lalu sang biksu menjawab sedang mengumpulkan sumbangan. Pada masa lalu, seorang biksu dianggap sebagai orang yang sangat tinggi, terutama di desa hampir setingkat tuhan, karena sang biksu yang mengajarkan makna dan kebenaran dalam kehidupan, ajaran tuhan, dan kadang-kadang dapat meramalkan nasib seseorang juga. Sehingga jika sang biksu mengumpulkan sumbangan, biasanya memberi minimum semangkuk besar untuknya. 

Akan tetapi, ternyata si Hwang ini orang pelit, sehingga dia sama sekali tidak ingin menyumbangkan sebutir pun beras dan terus membereskan kerjaannya di kandang sapi.

Namun, sang biksu tidak ingin kembali, tetapi terus berdoa di belakang si Hwang. Hwang yang lagi merasa jengkel memasukkan kotoran ke ransel yang sang biksu megang sambil mengatakan, “Kalau begitu mau sumbangan bawalah ini! Ini juga akan jadi beras jika dituangkan ke ladang!”

Seketika itu, anak menantu yang bernama Ji, dengan menggendong anak melihat pemandangan itu, dan merasa berdosa kepada sang biksu, sehingga memanggil sang biksu sambil memaafkan memberikan beras padanya.
Mendapat permintaan maaf dan sumbangan beras dari Ji, sang biksu menyuruh Ji untuk ikut keluar dari rumah tanpa melihat kebelakang apapun terjadi di belakang.

Anak menantu Ji tanpa bertanya alasannya, tapi mengikuti sang biksu sambil memikirkan pasti ada alasannya. Iya.. sang biksu ingin menolong anak menantu ini dari musibah yang akan dihadapi pada rumah itu. 

Nah, hampir tiba di ujung desa yang menghadapi bukit, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang keras sekali. Ji yang menggendong anaknya ini terlalu terkejut, sehingga tanpa sadar memalingkan mukanya ke belakang, dan pas saat melihat kebelakang, Ji menjadilah batu. Dan rumah si Hwang yang pelit hancur total dan dijadikan kolam. Jika Ji mengikuti sang biksu terus tanpa melihat kebelakang, dia dapat selamat, tapi akhirnya tidak bisa menghindari dari musibah juga.. 
Infromasi Wisata

Di kota Taebaek, provinsi Gangwon, ada Taman Hwangji dan disana ada 3 kolam, yaitu Sangji, Jungji, dan Haji dan ketiga kolam itu disebut Hwangji. Kolam itu merupakan sumber air sungai Nakdong yang dianggap sebagai sungai paling panjang di Korea Selatan. Hwangji itu selalu dilimpahkan sebanyak 5.000 ton air pada waktu kemarau dan juga hujanpun. Suhu air disana juga tidak naik-turun, tapi selalu bertahan sekitar 15 derajat Celsius pada musim panas dan dingin-pun.

Menurut sebuah buku sejarah Korea, jika kemarau yang serius terjadi, melakukan upacara bersembahyang agar hujan segera turun di kolam Hwangji tersebut.


( Legenda) Menara kakak laki-laki dan adik perempuan

 
 Gunung Gyeryong

 Di dalam gunung Gyeryong, seorang biksu sedang bertapa. Pada suatu malam hari, dia mendengar seekor macan besar mengaum dalam perjalanannya pulang. Namun, suara aum itu terdengar menyedihkan dan rasanya sang macan itu sedang meminta pertolongan. Walau takut, tetapi dia menghampiri tempat dimana suara aum macan itu terdengar. 

Di sana ada seekor macan sedang mengaum-ngaum kesakitan, karena sebuah jepitan rambut sanggul wanita tertancap dalam tenggorokannya. Biksu berupaya mencopotnya dan menasihati jangan mengorbankan manusia lagi. 
Beberapa hari kemudian, seketika biksu sedang bertapa di candi, dia terdengar lagi suara aum macan. Dia segera keluar dari candi, lalu tampak seorang wanita pingsan di depan candinya. Biksu membawa wanita itu ke dalam dan merawatnya. Setelah itu, sang biksu keluar dan memarahi sang macan yang sedang menunggu di halaman candi mengapa ia berbuat jahat lagi. 

Tak lama ketika wanita itu bangun dan menjelaskan bahwa dia seorang putri orang kaya di daerah Sangju dan pada upacara pernikahannya, dia diserang macan, lalu dibawa ke candi itu. Ditambahnya, dia menganggap kejadian itu adalah wahyu Tuhan dan ingin bersuamikan biksu itu. 

Namun, sang biksu menolaknya, karena dia sedang bertapa sebagai seorang biksu Buddha dan mendesak wanita itu untuk pulang ke rumahnya. Selama beberapa hari, wanita itu mencoba menyakinkannya tapi gagal. 

Akhirnya, dia memutuskan akan menjadi seorang biksu dan menjalin hubungan sebagai kakak dan adik. Kedua orang biksu itu mulai membangun menara masing-masing sambil bertapa. Setelah kedua menara itu selesai dibangun, mereka berdua meninggal dunia bersama-sama.
Infromasi Wisata
Kedua menara itu terletak di lereng gunung Gyeryong di belakang kuil Donghaksa. Di antaranya, menara yang tinggi dibangun oleh biksu kakak dan menara yang rendah dibangun oleh biksu adik perempuannya. Sebab itu, kedua menara itu dipanggil menara kakak laki-laki dan adik perempuan. Kuil Donghask yang berlokasi di kota Gong-ju, Provinsi Chungcheong Selatan itu terkenal karena memiliki pemandangan indah dengan mekarnya bunga Cherry pada musim Semi.


Source : kbs world

Seodong dan putri Seonhwa

 
Seodong adalah anak dari seorang janda yang tinggal di tepi kolam di daerah selatan Seoul dan dia dilahirkan dalam hubungan ibu dan seekor naga. Dia tumbuh menjadi seorang pemuda pintar dan ambisius. Dia hidup dengan berjualan ubi rambat, sehingga dipanggil juga dengan nama Madong
Setelah mendengar bahwa putri ketiga raja Jinpyeong dari kerajaan Shilla bernama Seonhwa sangat cantik, dia pergi ke Seorabel, ibukota kerajaan Shilla. Dia membagi-bagikan ubi rambatnya kepada anak-anak di daerah itu dan menjadi akrab dengan mereka. Setelah itu, dia membuat sebuah lagu dan mengajari anak-anak agar bisa menyanyikannya. Lagu itu berisi bahwa Putri Seonhwa dibujuk secara diam-diam, lalu dibawa pada malam hari. Setelah lagu ini tersebar luas di seluruh ibukota Shilla, sang raja mengasingkan putrinya ke tempat jauh dengan memberikan sekantong emas. 
Dalam perjalanannya tiba-tiba, Seodong muncul dan menawarkan dia untuk mengantar putri Seonhwa. Putri Seonhwa tertarik pada Seodong dan menyukainya sampai berhubungan intim.
Mereka berdua kembali ke Baekjea. Ketika putri Seonhwa ingin memberikan Seodong emas dibawanya dari Shilla, Seodong berkata bahwa dia telah menyimpan banyak emas di tanah. 
Kemudian, putri menyarankan semua emas simpanan Seodong dikirim ke kerajaan Shilla dan mereka dapat mengirimnya dengan bantuan seorang biksu sakti. Raja Jinpyeong, ayah putri Seonhwa yang mendapat emas dan surat dari putrinya merasa kagum terhadap Seodong. Sang raja menjadi menghormati Seodong dan sering menanyakan kabarnya melalui surat. 
Akhirnya, Seodong dipercayai raja Jinpyeong dan diangkat menjadi raja.
Infromasi Wisata
Kita sering mendapatkan kisah legendaris yang berkaitan dengan seorang raja di zaman dahulu. Kebanyakan kisah itu menceritakan latar belakang kelahiran raja yang misterius atau sakti.
Dengan demikian, sang raja itu dapat dihormati oleh rakyaknya, karena memiliki kekuasaan luar biasa sebagai pemimpin kerajaan.

Gungnamji merupakan sebuah pulau buatan di kolam besar yang terdapat di daerah Buyeo, propinsi Chungcheong Selatan. Di tengah pulau itu, ada juga sebuah paviliun bernama Poryongjeong yang berarti 'memeluk naga'. Tempat inilah yang mengandung kisah legendaris raja Mu di kerajaan Baekjea.

Source : KBS World

Kisah ‘Simcheong’

Pada zaman dahulu di sebuah desa dekat pelabuhan, ada seorang gadis muda yang sangat baik hati. Dia sudah kehilangan ibu saat dilahirkan, hingga dibesarkan oleh seorang ayah tuna netra. Gadis baik hati dan cantik itu namanya Simcheong. Walaupun Simcheong disayangi oleh banyak orang, karena cantik dan hati yang baik, tidak bisa mendapat penghasilan, sehingga menjalani kehidupan susah payah. Gadis yang sangat berbakti kepada ayah juga ini rajin melayani ayah yang tidak bisa melihat apa pun. Simcheong selalu berpikir jika ada cara untuk membalas kasih sayang ayah yang membesarkan Simcheong dengan sendiri, maka dia akan melakukan apa saja.
Suatu hari, bapak Sim jatuh ke sungai dari jembatan dan diselamatkan oleh seorang biksu. Biksu yang merasa kasihan pada seorang buta memberi tahu bahwa jika Sim menyediakan 54 ribu liter beras kepada sang Budha, maka akan dapat melihat lagi. Dengan kabar yang terlalu manis itu, bapak Sim tanpa pikir menjawabnya akan dia menyediakan.
Setelah pulang ke rumah, bapak Sim mengatakan cerita itu kepada anaknya Simcheong sambil menyesal, karena mereka terlalu miskin, hingga beras sebanyak itu tidak bisa disiapkan..
Simcheong yang mendengar cerita itu berdoa sesungguh hati setiap hari.
Beberapa hari berikutnya, Simcheong ketemu satu kelompok pedagang dari Cina yang ingin membeli seorang gadis yang akan dijadikan persembahan kepada Raja Laut. Di jalur laut diantara Cina dan Korea, ada sebuah daerah laut yang bernama Indangsu dan disana aliran airnya terlalu kuat, sehingga tidak bisa lewat atau menjadi korban, tapi jika menyediakan seorang gadis sebagai sesajen, katanya dapat menyeberang dengan aman.
Simcheong pun memutuskan untuk menjadi persembahan dan menjual dirinya dan menggantikan dengan 54 ribu liter beras serta membohongi ayah bahwa dia akan menjadi anak tiri di sebuah keluarga yang kaya dan baik hati sekali.
Dengan demikian, Simcheong menjadi korban di laut di daerah bernama Indangsu demi ayah. Bapak Sim yang tahu cerita sebenarnya itu, mencari-cari anaknya sambil nangis-nangis, tapi tidak dapat ketemu lagi..
Simcheong yang tenggelam dalam laut, tidak jadi korban begitu saja, tapi diselamatkan oleh raja laut dan dijaga dengan bunga teratai yang mengirim kembali ke permukaan laut.
Simcheong di dalam bunga teratai itu dikirim kepada sang raja Korea dan raja yang terpikat hati pada Simcheong yang cantik menyambutnya sebagai istri.
Simcheong yang penasaran dengan kabar ayah mengusulkan untuk membuka sebuah pesta khusus untuk kaum tuna netra. Simcheong dan bapak Sim akhirnya bisa ketemu dan ayah yang percaya anaknya dikorbankan gara-gara perjanjian dia untuk mendapatkan 54 ribu liter beras, kaget sekali dan saat itu matanya terbuka!
Mungkin itu semuanya adalah nasib yang diberikan oleh tuhan, karena selama ini mereka menjalani kehidupan dengan jujur dan baik dan Simcheong yang berbakti sekali kepada ayahnya…

Informasi Wisata

Indangsu yang diceritakan Simcheong melemparkan badannya sendiri ke laut, terletak di sekitar pulau Baeknyeong, dekat perbatasan antar-Korea. Menurut orang-orang yang sering melewati daerah itu sebelum Korea terbagi dua, daerah tersebut sangat susah dilewati gara-gara aliran airnya sangat keras. Dan menurut data sejarah, daerah Baeknyeong merupakan tempat mampir bagi pedagang-pedagang Cina yang pulang-pergi ke Korea sejak masa kerajaan Silla.